Sentilan Gus Menteri dihari Santri

Dunia Islam Hikmah Nasional

Oleh : Adhe Bagus Said**

Mengamati isu yang berkembang pasca pidato Mentri Agama RI (Gus Yaqut) diacara peringatan Hari Santri Nasional yang digelar RMI PBNU, Saya justru berterimakasih kepada Gus Menteri yang telah memberikan ruang kepada kita semua untuk membuka kembali sejarah perjuangan para Ulama NU, perannya yang begitu besar dan luar biasa dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan tanpa menafikan kelompok yang lain, tapi selama ini terlalu banyak sejarah yang ditutup-tutupi oleh sekelompok ahli hasut yang haus akan kekuasaan, berpuluh-puluh tahun sejarah peran parah tokoh NU dimanipulasi bahkan dihilangkan, kelompok tersebut adalah mereka yang bermesraan dengan orde baru dan hari inipun masih terus berteriak paling kencang, tapi warga NU selama ini diam biasa saja dan tidak mau meributkan, tapi hari ini mari kita berhitung, dan bikin perhitungan dan hitung-hitungan, kelompok siapa yang selama ini sudah menjadi penikmat hasil kemerdekaan srlama orde baru berkuasa 32 tahun dan siapa para pejuang yang punya peran sebenarnya, mari kita semua jujur dan buka-bukaan terhadap sejarah yang sebenarnya.

sejarah perjalanan bangsa selama ini begitu rapih ditutupi untuk menghilangkan peran para pendiri NU, bahkan menganggap orang-orang NU bodoh sehingga saat sejarahnya dihilangkan dan di manipulasi pun diam saja, tidak dendam ataupun melakukan perlawanan, kenapa diam, karena kita berkhusnudzon selama ini untuk tetap menjaga keutuhan dan kebersamaan dalam tubuh NKRI, tapi jangan kalian keterusan dan seenaknya, karena sejarah akan terkuak dengan sendiri dan menulis kejujuranya.

Persoalan ucapan Gus Menteri yang mengatakan kementerian Agama hadiah negara terhadap NU harus dilihat secara utuh jangan sepotong-sepotong yang pada ahirnya tafsirnya kemana-mana, jangan hanya di maknai sepihak tapi pahami secara utuh bahwa itu untuk memotivasi kaum Santri yang selama ini terus dipinggirkan dan di marginalkan oleh Negara, dan dimana acaranya juga acara Hari Santri Nasional yang diselenggarakan oleh RMI PB NU, jadi sekali lagi memahaminya jangan dipotong-potong atau sebagian terus teriak-teriak, digoreng sana sini, bubarkan Kementrian Agama, pecat Menterinya seolah sudah paling benar dan berjasa pada Negara ini, gak pakai dicerna, mau dibubarkan memang punya mbah mu.

Bagaiamana selama ini NU secara kelembagaan dan warganya di perlakukan tidak adil selama pemerintahan orde baru, bukankah sebagian kalian menjadi penikmat di zaman orde baru, kami tidak marah bahkan silahkan saja, padahal kita tahu NU punya kontribusi yang luar biasa pada Bangsa inu, kalau mau jujur dan sejujurnya silahkan berhitung dan kita hitung-hitungan.

Ini adalah hal yang wajar saja kalau NU diberikan hak untuk ikut mengurusi bangsa ini agar bisa lebih baik dan merasa memiliki tidak sekedar dibutuhkan kalau diperlukan, seperti mendorong mobil mogok, kalau sudah jalan ditinggalkan, nanti giliran ada masalah radikalisme, ancaman perpecahan Bangsa, pada diam semua pura-pura tidak tahu, NU diminta atau tidak berdiri paling depan demi keutuhan NKRI, dengan segala resikonya, juga dimusuhi oleh mereka kelompok-kelompok intoleran, pembenci pemerintah, kalian kemana, boleh dong kita yang jadi sopir plus penumpang yang baik untuk ikut mengelola dan mengurusi bangsa ini yang perjuanganya tidak lepas dari para Ulama dan kaum Santri di Nusantara.

Sekali lagi kita ingatkan kita lihat kebelakang di zaman orde baru siapa penikmat kekuasaan yang paling diuntungkan, dan siapa yang dipinggirkan kalau bukan warga NU, dari situ bisa dilihat betapa selama ini kita tetap loyal pada NKRI, kondisi apapun buat NU NKRI tetap harga mati dan harus tetap berdiri tegak di atas tanah dan air Indonesia, pemerintahan berganti NU tetap mendukung dengan baik, dimana ada NU menentang pemerintah, tidak ada dalam sejarah, kalau yang lain silahkan cari sendiri.

Orde Reformasi datang dan bergulir pemerintahanpun berganti, Gus Dur terpilih jadi Presiden dengan sangat demokratis pemilihan oleh anghota MPR RI, tapi apa ditengah jalan diturunkan tanpa alasan yang jelas bahkan dengan fitnah yang teramat keji, coba dimana NU, tidak melakukan perlawanan apapun demi menjaga keutuhan NKRI, agar tidak terjadi pertumpahan darah, kurang menghargai dan menghormati apa orang-orang NU di Bumi Nusantara.

Terimaksih Gus Menteri sedikit sentilanmu telah membuka topeng dan kedok mereka yang selama ini terganggu dengan keberadaanmu, kehadiranmu dikancah politik nasional telah mengusik lawan atau kawan dengan jelas mana yang harua diperjuangkan dan mana yang harua ditinggalkan, dan sebagian mereka memang selama ini hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya, kehadiranmu membuka topeng itu terlihat begitu nyata mereka yang justeru terganggu atas kehadiranmu, tidak ada yang keliru atas sentilan Gus Menteri di Hari Santri Nasional, justeru membuka tabir dan tirai yang selama ini ditutupi oleh kaum serakah yang haus kekuasaan.

Bukanya dari awal Menteri Agama juga sudah menyampaikan dengan tegas dan lugas bahwa kementerian Agama adalah kementerian untuk semua Agama, bahkan golongan, berdiri diatas semua ormas keAgamaan kecuali ormas tersebut terlarang dan menentang serta merongrong NKRI pasti tidak ada tempat?

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, bahkan berulang-ulang dalam setiap kesempatan baik acara resmi atau tidak selalu menyampaikan bahwa keberadaanya sebagai Menteri semua Agama dan berdiri diatas semua golongan.

Bahwa kemudian ada ucapan pada acara dalam diskusi di RMI sudah dijelaskan maksudnya untuk memberikan spirit dan motivasi kepada Santri, tapi digoreng sedemikian rupa seolah-olah menjadi kesalahan yang fatal, sampai ada yang teriak tangkap dan penjarakan inikan jadi ngawur memprovokasi umat untk membuat kegaduhan, coba kalau dipahami dengan baik kami rasa tidak perlu diributkan berlebihan, coba cek kembali sepak terjang yang teriak-teriak itu, beberapa tahun kebelakang apa yang sudah mereka lakukan untuk Bangsa ini .

Sekali lagi sejarah telah membuktikan bahwa peran NU secara kelembagaan tidak bisa dilihat sepotong-sepotong, saya tegaskan kita lihat ke belakang coba bayangkan di zaman orde baru betapa orang NU tidak sama sekali diberikan peran untuk terlibat mengurus bangsa ini tapi orang-orang NU biasa saja, tidak teriak-teriak apalagi marah-marah, jangan munafik lah hari ini semua dilibatkan tanpa terkecuali tapi masih saja tidak puas.

Selanjutnya saya yakin kementerian Agama tidak pernah membeda-bedakan perlakuan pada golongan yang ada bahkan Agama-Agama yang ada di Indonesia, dan harus dipahami juga bahwa ucapan itu jangan ditafsirkan sepihak dan ditelan mentah-mentah tanpa tabayun dan dicerna dengan akal sehat

Repotnya lagi memang kalau motif nya ketidaksukaan dan kebencian langsung aja ngegas ya pasti tafsirnya jadi negatif, melihat sesuatu itu harus adil, kalau sejak dari pikiran sudah tidak adil dan tidak positif ya hasilnya pasti kebencian.

Saya berharap semua pihak tidak langsung emosi dan ngotot, asal beda dan teriak menyalahkan tanpa memahami persoalan yang sebenarnya, salam kebersamaan untuk Indonesia yang lebih harmonis dan berkeadilan.

Koordinator Nasional
Jaringan Alumni Muda PMII**

Leave your vote

-1 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *