Semangat dan teladan Santri: Santri Siaga Jiwa Raga

Culture Dunia Islam Nasional


Oleh Idham Cholid

Ada yang beda pada peringatan Hari Santri tahun ini. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyerahkan jabatan, justru kepada santri. Adalah Afi Ahmad Ridlo, santri kelas 12 Madrasah Aliyah dari Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur, yang mendapatkan keberuntungan. Dia menggantikan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama. Benarkah?

Tak salah. Itulah kreativitas Ketua Umum Ansor menyuguhkan drama, tentu bukan untuk menghibur apalagi prank (lelucon) semata. Gus Menag tengah memotivasi para santri, mendidik mereka agar mempunyai komitmen dan tanggungjawab mengemban peran, yang berat sekalipun.

“Santri kalau hanya bisa ngaji tapi tidak bisa berbakti pada negeri, jadinya useless.” Demikian antara lain pesannya.

Santri Siaga Jiwa Raga, tema peringatan kali ini, selain merupakan wujud komitmen kaum santri, juga menjadi motivasi bagi para santri itu sendiri. Mereka, terutama yang berada di pesantren, justru harus lebih giat dan bersemangat. Tafaqquh fiddin, mendalami dan menguasai ilmu keagamaan khususnya, menjadi keharusan. Namun ilmu bukan untuk ilmu semata, justru kemanfaatannya akan diuji dalam kehidupan nyata. Tanpa itu, useless alias tak berguna, kata Menteri Agama.

Maka, tak ada alasan untuk tidak bisa mengambil peran, bahkan bukan hanya dalam lapangan keagamaan atau kehidupan kemasyarakatan. Tetapi lebih luas lagi, peran-peran kenegaraan pun harus bisa dilakukan.

KH Abdurrahman Wahid, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menjadi teladan yang paling nyata. Presiden ke-4 RI itu menjadi inspirasi, bagaimana seharusnya kaum santri itu berbakti pada negeri. Demikian pula KH Ma’ruf Amin. Meski sudah sepuh tapi tetap teguh, tak pernah rapuh. Semangat juangnya selalu membara, mengalahkan kaum muda.

Kini, tak sedikit pula dari kalangan santri yang tampil di pemerintahan. Baik menjadi Menteri, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, Wakil Walikota, maupun yang mengisi jabatan birokrasi. Yang di legislatif, jelas tak terhitung lagi jumlahnya.

Tentu, bukan sekadar jabatan formal yang perlu dibanggakan. Peran resmi itu hanya merupakan afirmasi, semakin meneguhkan bahwa kalangan santri akan selalu memberikan konstribusi yang lebih berarti. Komitmen kebangsaan kaum santri tak perlu diragukan lagi.

Nilai itulah yang sejatinya harus kita petik dari peringatan Hari Santri. Penetapan 22 Oktober berdasarkan momentum di mana Resolusi Jihad difatwakan oleh Hadlratus-Syaikh KH Hasyim Asy’ari, sangat jelas dan tegas.

“Hukum untuk orang yang memecah persatuan kita sekarang ini, wajib dibunuh.” Demikian salah satu point penting dalam Resolusi Jihad. Selain memerangi orang kafir yang merintangi kepada kemerdekaan dihukumi sebagai fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang Islam yang mungkin, meskipun bagi orang fakir.

Keteladanan itulah yang harus terus digelorakan. Teladan untuk kita semua. Bahwa persatuan Indonesia menjadi dasar utama. Tak ada tempat bagi para pemecah belah bangsa, titik!

Karenanya, apa yang saat ini populer dengan intoleransi, radikalisme, terorisme, dan ekstrimisme, dalam segala bentuknya, bukan hanya tidak sejalan dengan semangat persatuan. Itu semua justru telah melanggar prinsip dasar kemerdekaan. Mereka telah “merebut” hak setiap warga bangsa menikmati kedamaian.

Maka, Santri Siaga Jiwa Raga –kapan pun, di mana pun– harus terus menebar kebajikan, dan memberikan kemaslahatan.(***)

Kalisuren, 22 Oktober 2021

Idham Cholid
Kader NU & Alumni PMII, tinggal di Wonosobo

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *