Ulama NU Mawa Urang NU Milu: Jampi ideologis Abah Cipulus Pendekar Sunda yang me-Nusantara

Dunia Islam Hikmah History News Keislaman Opini Pesantren Pilosophy Sains Santri

Oleh: Hadi M Musa Said**

Tulisan ini dibuat pada hari Jumat (23/07/21) bersamaan Haul pertama Abah Cipulus karena belum selesai jadi saya posting sekarang, sebenarnya susah menutup tulisan tentang perjalanan dan menceritakan tentang teladan Abah.

Rasanya baru kemarin Abah pergi meninggalkan kita semua untuk memenuhi panggilah Allah SWT, menghadap sang Khaliq yang InsyaAllah Abah sudah bahagia dan bertemu dengan para Guru nya, para sesepuh dan pendiri Pondok Pesantren Cipulus, tentu juga Abah akan senang sekali bertemu dengan para Pendiri dan muasis Nahdlatul Ulama Syaekhona KH Cholil Bangkalan, Hadratusyeh KH Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH R As’ad Syamsul Arifin, KH. Abas Buntet dan para pejuang NU yang sudah mendahuluinya.

Bisa dikatakan Abah itu NU nya 24 karat, hampir selama hidupnya di setiap ceramahnya tidak pernah lepas menyampaikan soal ke NU an baik secara amaliyah ataupun ubudiyah NU begitu melekat dan mendarah daging dalam jiwa dan hidup nya Abah, NU seolah menjadi nafas perjuangan dakwah beliau sampai akhir hayat, satu hal yang gak pernah di tinggalkan oleh Abah adalah sholawat setiap mengajari ngaji santri-santrinya ataupun berceramah saat diundang keluar kota, acara Alumni, Guru Ngaji atau pun acara-acara yang lain, seperti hal nya majelis Taklim Al Badar rutinan yang ada di Pesantren Cipulus setiap Selasaan Ibu-ibu dan Kamisan bapak-bapak yang sudah 40 tahun lebih berjalan dengan sangat istiqomah mengasuhnya dan merawatnya selalu dusampaikan soal tauhid dan pembacaan Sholawat secara bersama-sama.

Abah adalah sosok yang sangat humanis penuh kasih sayang, kepedulianya diatas rata-rata, sikap toleransi nya sangat tinggi, sangat menghargai dan menghormati orang lain tanpa melihat pangkat, jabatan atau identitas sosial seseorang. Saat bertemu Abah bisa dipastikan akan sangat serasa dekat dalam berkomunikasi dan mengobrol dari mulai soal agama, Politik, Ekonomi, kebijaksanaan hidup, Pendidikan dan lainya.

Hari ini hari Jum’at genap 1 tahun persis Abah meninggalkan kita semua Keluarga di Pondok Pesantren Cipulus, Jamaah Majelis Taklim Al Badar, Santri dan  masyararakat umum, menurut Hitungan tahun Hijriyah, tepatnya 13 dzulhijah 1441 H  hari tasriq terahir waktu itu hari Senin, hari ini hari Jum’at 13 dzulhijah 1442 H, kalau memakai kalender Masehi tepatnya senin 3 Agustus 2020, hari ini Jum’at kami mengadakan Haul 1 tahun dengan tahlil dan doa bersama keluarga besar Ponpes Cipulus dan Santri di Makam beliau Abah KH Adang Badruddin Cipulus Purwakarta, hanya dengan Santri tidak melibatkan Masyarakat umum karena kondisi masih PPKM di karenakan masih Pandemi wabah Corona atau covid 19, acara doa bersama keluarga dan Santri diadakan secara internal khusus kalangan Pesantren juga ubtuk mendoahkan Bangsa ini agar segera terbebas dari covid-19.

Abah, rasanya baru kemarin Abah pergi, masih terasa senyum Abah, terlihat jelas keseharian Abah, teringat jelas setiap pesan-pesab Abah pada kami Santri, untuk terus berkhidmat pada NU dan mengikuti Ulama NU bahkan Abah selalu mengingatkan pada kita semua untuk setiap Santri yang sudah pulang kerumah masing-masing untuk tetap mengaji, mengajari Ngaji pada lingkunganya, kalau belum bisa ya Ngaji lagi ke yang lain, serta harus ikut aktif di KBNU, sesuai dengan tingkat usianya masing-masing, di IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, dan NU atau di lembaga-lembaga yang berbasis NU, jangan lepas dari NU itu pesan Abah yang sangat jelas dan bahkan di tulis di lingkungan Pesantren Cipulus, dan bahkan Abah pernah sampaikan bagi siapapun Alumni Cipulus yang tidak ikut NU tidak diakui sebagai Alumni Pesantren Cipulus, itu artinya bahwa kita dianjurkan untuk betul-betul bisa berkhidmat pada Jam’iyahnya para Ulama yang selama ini sudah ada yaitu Nahdlatul Ulama, dalam satu ikatan dan tarikan nafas bahwa NU adalah organisasi yang didirikan para Waliyullah dan kita yakin akan bersama-sama para Ulama didalamnya yang sanadz keilmuanya jelas sampai pada Rasulullah SAW.

Selanjutnya pesan Abah kenapa para Santri dan Jamaah Cipulus atau kita semua harus ber Jam’iyyah dan ikut di NU karena dengan berjam’iyyah kita akan kuat dan saling menguatkan satu sama lain, saling mengingatkan, saling menolong dan saling membantu dalam kebaikan dan perjuangan dalam dakwah Islam, Abah selalu mencontohkan sapu lidi itu karena banyak bersatu dan menyatu jadi bermanfaat coba kalau satu lidi bukan sapu lidi tidak kuat dan kurang manfaatnya, artinya kita butuh persatuan dan kesatuan, seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Disisi lain jiwa ke Indonesia-an Abah begitu kuat, Hubul Wathan Minal Iman, Abah seringkali menyampaikan kita harus bersyukur hidup di Indonesia karena semua ada dan dimudahkan, kita bisa sakolahkan anak, masantren, belajar, mencari nafkah, ber Ibadah dengan tenang, sok tingali (lihat Bahasa Sunda. red) di Negara lain banyak yang perang, bagaimana mau Ibadah, Sekolah, cari Nafkah setiap saat ada bom, ada konflik, maka dari itu kita harus syukuri nikmat Allah SWT yang dahsyat tinggal di Indonesia Negeri yang aman dan damai, kalau masih ada kekurangan ya itu masih wajar, tidak ada manusia atau pemimpin yang sempurna di dunia ini.

Begitulah Abah, kecintaanya pada Agama dan Bangsa Indonesia betul-betul di ejawantahkan dalam tindakan dan prilaku sehari-hari bukan hanya berdakwah dalam bicara di sana-sini tapi langsung di praktekan sehari-hari dihadapan Santri, Jamaah dan Masyarakat.

Tentu Abah juga masih banyak kekuranganya, sekali lagi kalau kita lihat Abah dari sisi yang lain, Abah adalah sosok yang cerdas dan cepat dalam mencari solusi saat ada permasalahan, Abah adalah seorang pengajar yang Alim dalam banyak hal, Abah adalah figur lengkap Kyai, Ulama, Pedagang, Pendidik dan pejuang Dakwah yang tidak pernah lelah apalagi berhenti atau pensiun, disisi lain kecintaan Abah pada Negeri ini sungguh luar biasa, Hubul Wathon minal Iman di praktekan betul dalam keseharian beliau dalam memimpin dan mengasuh Pesantren.

Selain itu, abah juga selalu menghidari perselisihan dan mengalah dalam banyak hal, baik dalam soal ke NU an ataupun soal kekuasaan dan jabatan, Abah tidak pernah meminta jabatan apapun, Abah diminta tapi kalau masih ada yang mau ya dipersilahkan, sampai jujur saya pribadi kadang geregetan, dan ingin segera meneyelesaikan dengan cara yang lain saya selalu diingatkan abah, pernah satu saat saya pribadi merasa dan melihat Abah tidak di posisikan pada hal yang pas dan kewenanganya di abaikan, saya matur memghadap Abah kalau diizinkan saya akan memdatangi dan menyelesaikan dengan cara saya, karena ini audah sangat kelewatan dan meremehkan, tapi apa jawab Abah, jangan nanti ada waktu dan bagianya sendiri, setiap orang ada masa nya, ada hqbisnya, itu yang saya ingat betul soal politik dan keberadaan serta penghargaan terhadap Abah yang kadang tidak sesuai tapi Abah diam saja, yang terpenting buat Abah kita tetap berjuang dan bisa bermanfaat bagi orang lain dan soal lain biarlah sudah ada yang mengaturnya, tapi saya yang marah betul, ini orang selama ini hanya memanfaatkan Abah dalam banyak hal, tapi tidak ada hormat dan penghargaanya sama sekali ini hanya satu sisi lain dar kesabaran yang luar biasa dan keistiqomahan Abah yang dahsyat dan luar biasa, kini Abah telah pergi tapi pesan-pesanya begitu melekat dalam diri kami, insyaAllah biidznillah kami berusaha meneruskan perjuangan Abah tentu itupun sangat jauh dari dari Abah, kami masih sangat jauh dari Abah dalam aegi apapun, kami hanya ingin melanjutkan sekemampuan kami, betmrusaha sebaik mungkin itupun belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Abah.

Selanjutnya amanat Abah soal pendidikan yang insyaAllah dengan izin Allah mudah-mudahan segera bisa kita laksanakan dengan berdirinya STAI Al Badar di Ponpes Cipulus ini, InsyaAllah nanti Abah segera menyaksikan dan Abah adalah Inisiator berdirinya STAI Al Badar, kami hanya melaksanakan dan menyiapkan serta mengupayakan agar semua ini bisa terlaksana dengan baik mohon doa dan dukungan dari semua pihak.

Terakhir, Alhamdulillah buku biografi Abah Cipulus dan Perjuangan Dakwah, telah selesai walaupun jauh dari sempurna, buku Biografi Abah Cipulus ini ber cerita dari masa kecil Abah, menuntut Ilmu hinga Abah menjadi Pengasuh Pesantren, tentang suka dukanya, kerja kerasnya, semangat belajarnya Abah yang yatim dari kecil, pas hari ini jum’at tepat 1 tahun contoh buku itu sampai dari percetakan, yang InsyaAllah nanti akan kami Launching sehari sebelum Haul Pesantren Cipulus, sebagai persembahan kami untuk Abah dalam mendokumentasikan teladan-teladan Abah agar kita bisa belajar banyak hal dari sosok yang sederhana tapi luar biasa, sosok yang bersahaja tapi penuh makna, sosok yang tegas tapi penuh kasih sayang, sosok yang amanah dan mengayomi semuanya, sosok yang mendidik dengan contoh tindakan keseharian, sosok yang memahami kearifan lokal dan budaya, sosok yang sangat Nyunda tapi me-NU-santara dan sangat meng-Indonesia.

Selamat jalan Abah sungguh kami kehilangan tapi kami ikhlas dan kami bangga menjadi Santri Abah, menjadi jamaah Abah dan kami akan melanjutkan perjuangan Abah dengan semangat yang engkau tanamkan pada diri dan jiwa kami selama ini. Kami yakin engkau orang hebat yang baik, orang baik yang hebat, jasamu luber pada santri dan jamaah mu, semoga kelak kami dibersamakan dengan Abah dan berkumpul dengan para pendiri Pesantren Cipulus dan Pendiri NU dan orang-prang Soleh amiin.

Cipulus 23 Juli 2021 M/ 13 Dzulhijah 1442 H

Penulis Biografi Abah Cipulus

Ketua PP GP Ansor

Pendiri STAI Al Badar Cipulus

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *