Visi dan Jiwa Enterpreneurship Abah Cipulus

Dunia Islam Fragmen Hikmah History News Keislaman

Oleh: H. Hadi M Musa Said**

Purwakarta, cipulusnews.com– Pesantren Cipulus yang didirikan pada tahun 1840 M oleh Mama Muhammad atau Mama Emed, terletak di Desa Nagrog Wanayasa Purwakarta, tepatnya di Kampung Cipulus Desa Nagrog Kec Wanayasa, Daerah yang cukup dingin dan adem dibawah kaki Pegunungan Burangrang, dan cukup banyak aliran sungai kecil dari mata air di pegunungan Burangrang tersebut.

Daerah Kampung Cipulus dan sekitarnya seperti Wanayasa, Bojong, Kiarapedes adalah daerah dengan suhu dingin dan banyak ditumbuhi tanaman seperti Teh, Cengkeh, Manggis, Pala, dan lainya yang memang biasa tumbuh di daerah dataran cukup tinggi dari sinilah hampir semua masyarakat di daerah sekitar Pesantren Cipulus punya tanaman pohon cengkeh, Teh dan pala minimal di kebun belakang rumahnya atau di halaman rumahnya.  Rata-rata masyarakat daerah tersebut punya pohon cengkeh untuk tabungan panen tahunan, disamping itu, masyarakat sekitar pesantren juga menanam padi, sayur mayur dan lainya, seperti pisang yang banyak dijumpai disekitar Wanayasa, dan ada juga yang beternak Ayam, Bebek, Domba atau memelihara ikan air tawar, seperti Nila, Mas, Gurami, Lele untuk tambahan penghasilan.

Abah muda selepas menikah pada tahun 1971 dengan Umi Hj. Nyai Zubaedah tentu punya keinginan untuk membangun ekonomi keluarganya lebih baik, beberapa usaha pernah Abah coba dan geluti seperti, pertanian, peternakan, perikanan dengan membuat kolam-kolam ikan air tawar.

Satu hal yang patut di teladani adalah kesungguhanya dalam hal apapun, keuletan serta keseriusan Abah dalam menekuni sesuatu serta semangat Abah yang luar biasa tak pernah menyerah, beberapa kali gagal pun Abah terus mencoba usahanya. Kisah tersebut penulis peroleh dari Umi Hj. Zubaedah, yang sempat beberapakali menuturkan kisah perjuangan Abah tersebut khususnya jatuh bangun abah mrmbangun perekonomian keluarga. Suatu saat Abah pernah beberapa kali gagal, bahkan pernah dibohongi orang termasuk sama karyawanya sendiri. Namun hal tersebut tidak pernah menyurutkan langkah serta kegigihannya dalam berwirausaha.

Saat musim cengkeh disamping Abah punya kebun sendiri sambil memanen, seringkali juga menjadi penampung bagi para petani cengkeh disekitar pesantren, dengan membeli cengkeh langsung dari petaninya, baik cengkeh yang masih basah ataupun sudah kering, bahkkan tidak jarang banyak petani atau masyarakat yang mengantar langsung buah cengkehnya ke Pesantren Cipulus untuk dibeli sama Abah.

Disinilah Abah betul-betul menikmati kehidupan sebagai seorang Petani sekaligus sebagai Pedagang.

Sampai hari ini, tidak kurang dari 10 hektar lebih Abah punya lahan yang ditanami cengkeh, manggis, pala dll. Setiap tahun atau musim panen cengkeh, tidak kurang dari 2 ton Cengkeh Abah peroleh dari kebun Abah tersebut.

Semangat Abah dalam beratani/berkebun itu  dimaksudkan untuk menunjukan bahwa disamping mengurus Pesantren, Abah  juga punya usaha untuk menompang ekonomi keluarga, tidak jarang hasil dari berwirausaha tersebut untuk menutupi atau mensubsidi pengembangan pesantren. Hal tersebut tentu menjadi daya dukung dan daya tarik sendiri terhadap santri yang ingin belajar di Pesantren cipulus.

Pesantren terus tumbuh dan berkembangnya dibawah kepemimpinan Abah setelah sebelumnya tentu didukung oleh para pendahulu, pengetahuan dan pergaulan Abah yang luas membuat pesantren makin maju dari berbagai aspek, baik jumlah santri, kualitas lulusan, kurikulum serta pengembangan fisik yang terus mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Pesantren betul-betul Mandiri sesuai dengan visi Abah yang ingin memajukan pendidikan di Pesantren, sungguh visi Abah tentang Pesantren dan Pendidikan jauh sekali kedepan disaat lingkungan sekitarnya masih bergelut dengan kebiasaan Pesantren yang seringkali dianggap kampungan, kaum sarungan, Abah sudah berbicara bagaimana menyiapkan Santri yang melek teknologi dan faham soal agama, dan kemandirian Pesantren betul-betul dicontohkan oleh Abah dengan mendidik anak-anak serta santri-santrinya untuk mempunyai usaha diluar aktifitas ngurus santri atau pesantren, dan membangun jaringan dengan pihak manapun jangan sekali-kali bergantung atau ketergantungan dari pihak lain.

Disinilah kelebihan Abah yang jarang sekali dimiliki orang lain, disamping mengurus Pesantren agar bisa mandiri secara ekonomi dan mengajak para Santri waktu itu untuk bisa berbisnis dan bertani dengan baik.

Siang hari Abah setelah Subuh berjamaah dan mengajari Santri-santrinya, Abah mengerjakan banyak hal, salahsatu diantaranya mengerjakan atau mengecek usaha yg sedang Abah bangun. Abah mengecek semua nya sendiri dan mengurus usahanya bersama Umi dalam banyak bidang termasuk pertanian.

malam harinya disamping mengurus Santri Abah juga mempunyai jadwal rutinan di beberapa majelis taklim di beberapa desa dan kecamatan lain dan hampir setiap malam dalam setiap minggunya, ini dilakukan diawal-awal pernikahan dari mulai daerah seperti Pamengpeuk, Cikubang, Ciracas, Wanayasa, Bojong, dll. Abah rutin hampir tiap malam berkeliling dari satu majelis ke majelis yang lain. Beberapa kesaksian menyebutkan Abah Cipulus mulai “Turun Gunung” sejak tahun 1970an.

Prinsipnya tidak boleh menyerah dan sesuatu yang ditekuni pasti akan ada hasilnya, dan Abah beberapa kali juga bercerita bahwa segala sesuatu itu harus diniatkan dengan kuat, jangan pernah takut gagal, karena Allah SWT pasti akan memberi kepada hamba yang mau terus berusaha dengan baik, tentu dengan diiringi doa dan memohon pertolongan dari Allah SWT.

Untuk Abah Alfatihah, Wallahu a’lam bishowab.

** Ketua PP GP Ansor dan Khadam/Humas PP Cipulus

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *