Babad Cianjur dan Kabayan Ngala Tutut Cerita Favorit Abah Cipulus Saat Berdongeng

Culture Hikmah History News Opini Pesantren Tarikh Tokoh

Oleh: H. Hadi M Musa Said**

Ditulisan sebelumnya, tentang masa remaja Abah Cipulus yang dengan ulet atau telaten mempelajari seni ngadongeng. Dikesempatan yang sama Mang Yadi dan Mang Narya juga menceritakan kisah-kisah tentang kepiawaian Abah Cipulus dalam berdongeng.

Mang Yadi bertutur bahwa Abah sangat suka dengan dongeng Babad Cianjur atau Geulis Cianjur katalanjuran, yang menceritakan tentang satu keluarga kaya raya yang dikaruniai dua orang anak perempuan cantik rupawan, satu saat keluarga kaya raya tersebut bertemu dengan seorang pemuda remaja yang sangat miskin dan hidup sebatang kara yang sudah ditinggal kedua orang tuanya, dan ahirnya ditawari bekerja di rumahnya sekaligus diangkat sebagai anak dan beberapa bulan kemudian karena pemuda remaja tersebut terlihat sangat jujur dan usaha orang kaya tersebut bertambah maju dan pemuda remaja tersebut diangkat menjadi anak angkatnya oleh keluarga kaya dan di Pesantren kan untuk menuntut Ilmu Agama kepada seorang yang alim hingga pemuda remaja itu menjadi dewasa dan sangat pintar menjadi cerdik pandai dan bijaksana, karena sangat rajin dan bersungguh-sungguhnya dalam belajar, tibalah saatnya pemuda yang sudah selesai menuntut Ilmu itu pulang kembali ke keluarga kaya (Pemuda itu bernama Adung, untuk lengkapnya tidak disebutkan sama Aki Yadi) pemuda tersebut pulang ke orang tua angkatnya yang sangat bangga dan berbahagia karena pemuda tersebut bisa menyelesaikan pelajaran di pesantren dengan lebih cepat dan sangat baik, walaupun namanya orang mesantren tidak ada batas dan selesainya dalam menuntut ilmu, dan orang tua angkatnyapun berfikir bagaimana kalau si Pemuda bernama Adung dijodohkan dengan salah satu putrinya atau anak gadisnya yang ada 2 orang.

Ahirnya pemuda tersebut di jodohkan dengan salah satu putri dari keluarga kaya tersebut, putri yang pertama tentu ditawari terlebih dahulu sebagai anak yang tertua tapi anaknya menolak karena tidak bisa menyukai si pemuda tersebut, sampai anak sulungnya keluarga kaya tersebut kabur dari rumah dan pergi ke Jakarta. Singkat cerita adiknya ditawari oleh orang tuanya untuk dijodohkan dengan Pemuda Adung, dan karena Putri keduanya anaknya menurut dan baik tentu setelah tahu kebaikan dan kecerdasan Pemuda Adung dan Putri kedua dari keluarga kaya ahirnya menerima perjodohan tersebut, dengan Pemuda miskin yang sudah menjelma menjadi seoranf yang alim dan sangat Cerdas tersebut, menjadi ahli ilmu Agama.

Dikemudian hari, si pemuda dan putri kedua keluarga kaya tersebut hidup sangat bahagia dan dikarunia anak serta tinggal dirumah tinggalan orang tuanya, berbekal keilmuan dan keluhuran budi yang tertanam dalam dirinya serta warisan yang melimpah oleh orang tuanya terus dikembangkan dan srmakin maju dan sukses. Pada ahirnya juga Pemuda Adung mendirikan sebuah Pondok Pesantren sesuai dengan amanah Guru nya di Pesantren, dan sangat maju bahkan pemuda alim tersebut menjadi Ulama Besar yang sangat di segani oleh semua orang.

Konon kakak pertama yang waktu di jodohkan tidak mau menerima dan meninggalkan rumah, pulang dengan penyesalan yang mendalam, hidupnya makin menderita karena sebatang kara dikota, terkena penyakit yang tidak biasa, dan selama di Kota seringkali berhubungan dengan banyak orang, ahirnya setelah pulang kembali dan bergabung dengan adiknya mulai menata hidupnya dengan baik dan ikut bersama membantu adiknya. Cerita ini di ceritakan langsung oleh Mang Yadi Juru Dongeng dipasar Bojong yang menjadi guru ngadongeng nya Abah Cipulus, seorang pendatang dari Garut yang berjualan pindang di pasar Bojong.

Sementara Mang Narya yang pernah Sekolah bareng selama di SR Pilar Bojong selama 6 tahun lebih bersama Abah, juga ada cerita Kabayan si tukang Tutut, (tutut adalah Jenis keong sawah yang bisa dan biasa dikonsumsi masyarakat desa), Kabayan yang kedul atau malas, lugu satu saat di nikahkan oleh orang tuanya dengan gadis dikampungnya, malam pernikahan diundanglah Ajengan untuk memgisi pengajiannya. Menurut tradisi lisan dan banyak sumber, Kabayan ini kan terkenal lumayan malas, lugu, lucu tapi banyak akalnya, sehari-harinya seringkali hanya tiduran dan berdiam diri dirumah dan mungkin saking kesal nya orang tuanya satu saat marah pada Kabayan dan meminta Kabayan untuk bekerja apa saja, nyari tutut atau apalah disawah, ahirnya Kabayan mulai setiap hari mencari tutut di sawah.

Selanjutnya malam pernikahan Kabayan yang mengundang Ajengan untuk mengisi pengajian, singkat cerita pengajian pun dimulai tapi sebelum penceramah Ajengan A maju tentu harus ada yang menjadi qori untuk.membaca Al qur’an dan sholawat, karena dicari-cari tidak ada atau berhalangan, dimintalah Kabayan oleh mertua atau mitohanya untuk menjadi qori, disinilah Kabayan mulai gusar dan panik karena memang tidak biasa dan tidak biasa dan membayangkan bagaimana menjadi seorang Qori tidak pernah belajar di Pesantren apalagi menjadi Qori.

Tapi karena dipaksa dan disuruh mertuanya atau Mitohahnya Kabayan pun beranikan diri dengan percaya diri, naiklah Kang Kabayan ini ke panggung biasa sebelum mengaji baca Salam dengan di fasih fasihkan, Assalamualakum Warahmatullahi wabarokatuh, Audzubillahiminasyaitonirojiiim, Busmillahirrohmanirohiiim… menirukan gaya Qori yang terkenal, dengan nada Qori yang menurut Kabayan paling baik diwaktu itu, seperti yang pernah didengarnya, orang yang mendengarnya pun terkagum-kagum dan bilang wah Kabayan hebat kabayan hebat sambil berharap lanjutanya,. ternyata Kabayan bisa qori dan suaranya cukup merdu untuk ukuran yang ngaji dan.menjadi qori dadakan malam itu.

Dan tibalah ayat yang akan di baca oleh Kabayan bingung sampai berfikir cukup lama, karena kebiasaan kabayan di sawah suka mencari Kapiting, belut, lele ikan betok dan tutut keluarlah kalimat dengan nada seorang Qori… Uraaaang, Kapitiiing, beluuut, leleee, wa betook,….. geeer seketika para jamaah tertawa riuh dan gaduh, semua jamaah yang hadir tertawa ngakak karena tingkah polah Kabayan. (Red.)

Cipulus 8 Agustus 2020

Santri Abah Cipulus; Ketua PP GP Ansor;

Khadam/Humas PP Cipulus; dan Komite SMK/SMA Albadar.

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *