Sedikit Catatan Untuk Fenomena Beragama Tapi Tidak Bertuhan

Dunia Islam Opini Pilosophy Purwakarta


Oleh: Hadi M Musa Said**

Saya awali tulisan ini dari hasil obrolan dengan beberapa orang sahabat, terkait dengan maraknya berbagai macam kelompok mengatasnamakan Agama dengan sangat Formal, tapi tidak terlihat subtansi beragama-nya, hal ini tersebut menguat atau semakin berkembang pasca Reformasi 1998. Semakin banyak orang dengan bahasa hijrah mempelajari Agama Islam, bahkan ada yang mualaf juga, hal ini tentu sesuatu yang positif, karena secara kuantitas umat Islam semakin besar dalam arti jumlahnya, perkembangan ini tentu menggembirakan dan menyenangkan, artinya Islam sebagai Agama makin diterima di semua kelompok masyarakat.

Tapi disisi lain dengan banyaknya orang masuk Islam dan hijrah untuk belajar Islam juga harus dicermati secara bersama sama dan jeli, karena dikawatirkan orang yang belajar salah guru, salah baca dan salah informasi, kita tahu hari ini informasi begitu masif dan bebasnya, mereka beragama tapi tidak bertuhan, karena sebagian mereka men-Tuhankan Agama, banyak ajaran agama yang disalah gunakan untuk kepentingan personal, kelompok atau golongan, sehingga melahirkan kelompok-kelompok radikal dan yang merasa paling benar dan selalu menyalahkan kelompok lainnya, ini yang sekarang marak dimana-mana, mereka beragama tapi tidak memahami substansi keagamaan yang sebenarnya sehingga beragamanya terlihat beringas dan menakutkan, karena yang berbeda dengan golonganya selalu dicap Kafir, murtad, bid’ah, dan sebagainya. Kebenaran adalah milik Allah SWT, kita tidak berhak menghukumi orang itu kafir atau tidak.

Banyak sekali yang memaknai beragama hanya untuk formalitas biar terlihat beragama atau terlihat seperti tokoh agama, tapi prilaku ber-agama-nya jauh dari nilai nilai agama itu sendiri.

Agama adalah keyakinan, jalan hidup manusia (ways of life), ketika meyakini sebuah ajaran Islam dengan sendirinya dan sudah seharusnya menyatu dalam satu tarikan nafas bahwa diri kita, tubuh kita, pikiran kita, hati kita bahkan ruh kita adalah ciptaan-Nya, untuk mengabdi pada Allah SWT, dengan sendirinya, ada kesadaraan kehambaan kita yang terbangun dan akan menuntun jalan kemaslahatan dan kebahagiaan hidup kita, untuk meraih puncak kebahagiaan tertinggi sebagai manusia, yaitu kebahagiasn bertemu Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW, disitulah nilai Islam harus disampaikan dengan santun ramah dan menyenangkan.

Belajar dari model dakwah Walisongo ditanah Jawa, kita diingatkan untuk terus merawat dan menjaga nilai nilai budaya yang tidak bertentangan dengan Amaliyah Islam untuk terus dijaga demi mempermudah penyebaran Agama Islam yang sangat lembut, toleran, moderat dan menghargai segala perbedaan yang memang itu adalah sunatullah.

Islam harus menjadi nafas perjuangan dan pengabdian bagi setiap pemeluknya, menjadi juru damai bagi umat manusia, menjadi rahmat bagi seluruh alam,..

**Ketua PP GP Ansor dan Koornas JAM PMII

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *