Pesantren, Hyperealitas dan Dunia yang semakin Bising

Opini Pesantren Pilosophy Sains Santri

Oleh : Sansan Saeful Millah**

Abad 21 adalah abad penyatuan umat manusia dimana jarak dan waktu bukan lagi kendala bagi keberlangsungan kehidupan. Peristiwa di belahan dunia bisa diakses dalam hitugan detik dengan teknologi informasi, kecepatan informasi menembus setiap lini kehidupan dan menawarkan solusi kebutuhan lebih cepat. Inilah era teknologi.

Namun tak dipungkiri disetiap perubahan selalu terjadi ketimpangan baik bersifat primer maupun sekunder. Arus informasi yang tersebar melalui televisi maupun media internet menjejali kepala setiap orang tanpa dipinta dan diharapkan, atau melebihi dosis yang dibutuhkan. Disadari atau tidak informasi masuk begitu saja ketika berhadapan dengan media sosial, hal tersebut berdampak pada psikologi. Pikiran setiap orang digiring oleh media untuk mengikuti arusnya secara persuasif (membujuk bahkan doktrin), sehingga melahirkan opini publik yang dianggap kebenaran, “yang viral itulah yang jadi tren baik benar atau salah”. pada puncaknya pikiran dan kebutuhan manusia bisa diciptakan (kapitalistik).

Dulu, informasi didapat dari koran atau beberapa media cetak, pengetahuan hanya didapat dari guru, sehingga arah, tumpuan, dan kualitas pengetahuan bisa dapat dipastikan. Untuk menikmati kopi dulu kita hanya perlu menyeduh atau pesan diwarung pinggir jalan, sekarang fasilitas cafe menjadi ukuran kenikmatan yang mana “harga suasana” bisa 3x lipat lebih mahal dibanding kopinya.

Jean Baudrillard seorang psikolog Prancis menyebutnya dengan fenomena “hiperrealitas”, yang berarti semua yang nyata hanya simulasi. Hal tersebut bagi sebagian masyarakat menjadi beban keperluan (yang sebenarnya bukan kebutuhan) yang selalu membayang-bayangi. Kelebihan informasi yang merasuki setiap orang, aneka jajanan yang tampil disetiap pandangan menjadi kebisingan bagi hati dan pikiran. Realitas tersebut perlu diantisifasi atau kita perlu ruang untuk membatasi diri, maka Pesantren adalah salah satu solusinya.

Pesantren, yang membatasi diri dari dunia luar masih menawarkan suasana ketenangan dan nuansa hangatnya kehidupan. Hal tersebut terlihat dari kehiduan santri yang objektif disetiap rutinitasnya, semua serba apa adanya. Terbatasanya koneksi dengan hal-hal diluar pesantren bukan dibentuk untuk memutus hubungan, melainkan untuk pembentukan karakter agar melahirkan manusia yang kompeten dan stabil. Aktifitas yang berfokus pada rutinitas (istiqomah) tertanam pada diri santri secara otomatis menghalau hal-hal diluar kebutuhan, keterlibatan santri terhadap realitas umum hanya sebatas rehat, penggunaan hp diwaktu tertentu digunakan sebagai instrumen refresing (sarana penyegaran / hiburan) semata, tanpa mengurangi konsentrasi apalagi mempengaruhi pikiran.

Pada substansinya efek samping dari pergeseran zaman melalui media sosial, kebanjiran informasi, polarisasi kehidupan masyarakat yang mengarah pada modernisasi (individualistik maupun kapitalistik), tidak berdampak secara signifikan di Pesantren. Disamping menjunjung tinggi nilai hidup yang lebih esensial (hakiki), penanaman unsur spiritual untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan juga menjadi keunggulan yang tak ditemukan di luar Pesantren.

Kesimpulannya, kehidupan di Pesantren mampu mengatasi kebisingan dari dampak negatif media informasi (baca: brita hoax, penggiringan opini, nomophobia, dan hiperrealitas) . Ketenangan hati adalah modal kebahagiaan hidup, karena banyak hal yang takan menjadi penting dan manfaat meski kita mengetahuinya.

*Alumni Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus dan Mahasiswa Program Magister salahsatu Perguruan Tinggi di Jawa Timur

Tulisan ini pernah dimuat di https://www.cipulusnews.com/pesantren-hyperealitas-dan-dunia-yang-semakin-bising/ atas ijin Penulis, Redaktur burangrangnews.com memuat ulang tulisan tersebut.

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *