Tujuh Jalan Kebahagiaan menurut KH. Anhar Haryadi

Hikmah Opini Pesantren Pilosophy

Oleh: Haris Sopia Aji**

“Jangan cari bahagia, tak akan ketemu. kau terjebak ilusi. Jangan tenggelam dalam kerumunan dan kultur. karena ia adalah simplifikasi. mediokrasi.
ambil jalan sulit dan terjal tak berujung. hanya itu satu-satunya rayakan kehidupan. paradoksnya, sisifus malah berbahagia.” Tutur pemilik akun @narpatisutra di twitter.
Kurang lebih begitulah 140 kata untuk menggambarkan bagaimana sulit dan panjangnya menggambarkan, memberi definisi, atau bahkan mencari dan memberi makna terhadap “realitas ataupun konsepsi tentang kebahagiaan”.


Sebagai sebuah konsep yang terdefinisikan tentu kamus, filsuf, sufi, dan sejarah sudah banyak mengisahkan atau mencatat tentang konsepsi kebahagiaan tersebut, lantas bagaimana indikator kebahagiaan sebagai sebuah rasa? walaupun “rasa bahagia” merupakan sesuatu yang sangat personal dan ketika dikatakan, dtitulis kemungkinan besar akan menjadi sebuah konsep kembali.

KH. Anhar Haryadi Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Al-Hikamussalafiyah Cipulus menuturkan dalam salahsatu unggahan Facebooknya, setidaknya ada 7 indikator kebahagiaan yaitu: Qolbun Syakirun, Al-Azwaju Sholihah, Al-Auladul Abror, Al-Baiatussholihah, Al-Malulhalal, Tafaquh Fid-dien, dan Umur yang barokah.
Berikut penjelasan mengenai ketujuh indikator tersebut.

  1. QOLBUN SYAKIRUN
    (hati yg selalu bersyukur) Artinya selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
    (QS 13:28, 2:152, 16:18, 34:14, 55:13, 14:7).
  2. AL-AZWAJU SHALIHAH (pasangan hidup yang sholeh). Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan, suasana rumah dan keluarga yg sholeh pula
    (QS 51:49, 17:32, 24:32, 24:26)
  3. AL-AULADUL ABRAR (anak yg sholeh/sholehah).
    Do’a anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah SWT, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh/sholehah.
    (QS 17:23, 31:14, 46:15, 29:8, 25:74)
  4. AL-BAIATU SHOLIHAH (lingkungan yg kondusif untuk iman kita).
    Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang sholeh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.
    (QS 4:69, 51:55, 26:214, 5:2)
  5. AL-MALUL HALAL
    (harta yang halal).
    Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup. Berbahagialah orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
    (QS 2:267, 43:36-37, 2:269, 2:155)
  6. TAFAKUH FID-DIEN (semangat untuk memahami agama). Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah SWT dan Rasulnya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
    (QS 45:20, 3:138, 5:16, 4:174, 2:269)
  7. UMUR YANG BAROKAH.
    Artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang2 yang barokah umurnya. (QS 2:96, 35:37, 36:68, 225).
    Selanjutnya, bagaimana apabila Konsepsi “bahagia/kebahagiaan” tanpa definisi, indikator ataupun tolak ukur yang terkadang hanya membatasi atau bahkan mengaburkan makna dari kata, konsep atau rasa “bahagia” tersebut. Mungkin bisa dan kalaupun bisa akan sama sulitnya dengan mencari bahagia dengan definisi dan indikator sebagaimana sedikit dijelaskan diatas.
    Menutup tulisan ini penulis meminjam apa yang disampaikan Heidegger tentang ada dalam (Adian, 2003: 74) bahwa dalam genggaman epistimologisnya dasein(manusia red) dan hanya dasein yang bisa mengikhlaskan hujan tampil dalam “kehujanannya”.
    Apabila kita menafsir “dasein” sebagai “manusia tertinggi” atau manusia yang berhasil bahagia, maka bahasa puitik tersebut boleh berarti manusia bahagia adalah “manusia yang mengikhlaskan manusia tampil dalam “kemanusiaannya”.
    Wallahualam Bisshowab.

** Guru Mapel Sejarah di SMK Al-Badar Cipulus

Tulisan ini pernah dimuat di https://www.cipulusnews.com/tujuh-jalan-kebahagiaan-menurut-kh-anhar-haryadi/

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *