WAJAH ISLAM INDONESIA, DAN VISI PERDAMAIAN DUNIA

Keislaman Opini

H. Hadi M Musa Said, MSi**

Salah satu kunci karakteristik Islam damai di Indonesia adalah faktor historis penyebaran Islam di kawasan ini. Islam masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke-13 dan 14 Masehi (beberapa teori/ilmuan menyebutkan bahkan pada abad ke-7 Masehi Islam sudah mulai masuk ke Nusantata) terutama oleh tim penyebar Islam yang dikenal dengan Wali Songo melalui jalur damai. Penyebaran Islam di Indonesia atau Nusantara tidak dilakukan dengan metode perluasan wilayah atau peperangan. Islam masuk ke wilayah Indonesia atau Nusantara setidaknya melalui beberapa saluran. Pertama lewat jalur perdagangan, yakni adanya interaksi antara para pedagang dari Arab dan dari Gujarat India dengan penduduk setempat dan melalui transaksi perdagangan itulah Islam kemudian dikenalkan dan disebarkan kepada masyarakat setempat.

Selain jalur perdagangan, Islam juga masuk melalui jalur budaya dan kesenian. Inilah yang menyebabkan Islam mudah tertanam kepada masyarakat dengan damai. Melalui jalur kebudayaan, atau adat dan tradisi yang berkembang di masyarakat, para ulama penyebar Islam memasukkan nilai-nilai dan ajaran islam, tanpa membuang kebudayaan setempat. Para ualama memberikan orientasi keislaman kepada kebudayaan setempat itu. Misalnya dalam tradisi sesaji atau persembahan makanan kepada dewa-dewa. Budaya ini tidak dibuang oleh para penyebar Islam di Indonesia, akan tetapi diberikan nilai keislaman yakni makanan atau persembahan kepada dewa-dewa itu diberikan kepada sesama manusia yang disebut berkat. Nah sebelum berkat atau makanan itu dibagikan kepada masyarakat, para ulama penyebar Islam mengajarkan tentang bagaimana syahadat kemudian doa-doa kepada Allah yang Maha Esa. Jadi dalam tradisi yang sudah diajarkan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun itulah Islam menanamkan nilai-nilai dan substansi ajarannya.

Berikutnya, Islam juga disebarkan juga melalui jalur kesenian. Para penyebar Islam juga mempunyai cita rasa seni yang tinggi. Di bidang seni musik ada gamelan, kemudian seni rupa itu ada wayang, kemudian ada arsitektur situ ada bangunan-bangunan rumah ibadah yang mencerminkan karakter budaya setempat sehingga sangat mengena dan dihayati oleh masyarakat. Melalui jalur kesenian ini pun Islam dapat tersebar secara damai di Indonesia.

Jadi secara umum penyebaran Islam di Indonesia dilakukan melalui jalur yang soft atau masuk ke dalam sistem kebudayaan masyarakat setempat sehingga berlangsung damai. Islam menjadi bagian dari apa yang sudah dijalankan oleh masyarakat ketika itu.

Pendekatan budaya ini juga yang menyebabkan karakter Islam indonesia sangat toleran terhadap apa yang berkembang di masyarakat, tidak mudah menuduh bid’ah atau sesat, tidak mudah mengharamkan, dan tidak memusuhi beberapa hal yang berbeda di dalam mayarakat. Ajaran Islam menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri dengan kulturnya yang beragam.

Pesantren dan NU

Ajaran Islam damai yang dikembangkan oleh para ulama sejak awal penyebaran Islam di Indonesia itu kemudian ditransformasikan oleh para ulama atau para kiai ke dalam pesantren. Pesantren yaitu sebuah lembaga pendidikan sekaligus institusi kebudayaan yang bertugas menanamkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya kepada masyarakat. Jadi pesantren baik sebagai institusi pendidikan maupun institusi kebudayaan merupakan pemegang estafet penyebaran agama Islam di Indonesia atau di wilayah Nusantara ini.

Melalui pesantren, para ulama, para kyai mengkonseptualisasi ajaran Islam damai itu dalam sebuah konsep yang lebih bisa dipahami baik oleh masyarakat umum maupun oleh dunia akademik ketika pendidikan Islam sudah berkembang sedemikian rupa. Konsep Islam damai oleh para ulama para kyai dirumuskan di dalam prinsip ajaran mengenai tawasuth atau jalan tengah kemudian, tasamuh atau toleransi, tawazun atau kesemimbangan, dan dan i’tidal atau tegak lurus dalam bersikap serta konsistensi dalam memegang ajaran ulama terdahulu.

Estafet berikutnya adalah organisasi Nahdlatul Ulama atau NU. Nahdlatul Ulama ini adalah kumpulan dari pesantren-pesantren yang diorganisir agar menjadi sebuah kesatuan yang kuat, agar pengembangan dakwah Islam yang damai ini dapat berlanjut dan terorganisi dengan baik.

Berdirinya organisasi NU ini juga terkait dengan suasana kebatinan masyarakat Indonesia ketika itu dalam mewujudkan kemerdekaan atau untuk terlepas dari penjajahan. Jadi NU selain lahir dengan spirit keagamaan mengembangkan Islam yang damai, juga menjadi bagian dari pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. dalam konteks ini NU mengembangkan prinsip ajaran mengenai “hubbul wathon minal iman” bahwa cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. Bahwa kecintaan NU atau masyarakat pesantren yang ditanamkan semenjak masuknya Islam di Indonesia terhadap aspek kebudayaan masyarakat setempat inilah yang menyebabkan orang NU dan kaum santri mempunyai nasionalisme yang tinggi. Cinta kepada tanah air atau cinta kepada tempat di mana bumi dipijak yang sudah tertanam lama itulah yang menyebabkan ajaran “hubbul wathon” sangat diterima bahkan menjadi semboyan untuk menggerakkan masyarakat mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Para ulama NU juga mengembangkan prinsip tiga ukhuwah atau trilogi ukhuwah, yakni ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah Basyariyah: persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa dan setanah air dan persaudaraan antar sesama manusia. Inilah yang diajarkan oleh para ulama Indonesia atau khususnya para ulama NU terkait dengan pengembangan Islam damai dalam konteks bernegara.

Damai Islam Indonesia untuk Dunia

Terkait dengan tema besar yang diangkat dalam Seminar Internasional ini yakni “Wajah Islam Indonesia, Wajah Perdamaian Dunia” kami ingin menyampaikan bahwa pada saat dunia islam dihadapkan dengan fitnah yang besar seperti sekarang ini maka sudah saatnya Islam Indonesia diajukan sebagai modeal Islam alternatif. Saatnya model Islam damai di Indonesia menjadi rujukan dunia Islam.

Fitnah besar yang kami sebutkan tadi setidaknya berkaitan dengan beberapa hal. Pertama adalah adanya konflik dan perpecahan yang melanda negeri-negeri muslim, terutama di Timur Tengah. Konflik, perpecahan dan pemberontakan serta perang saudara yang tidak henti-hentinya ini bahkan sampai meluluhlantahkan beberapa negara Muslim yang dulu pernah menjadi simbol kejayaan Islam.

Fitnah besar yang kedua adalah berkaitan dengan isu radikalisme dan ekstrimisme serta terorisme. Memang radikalisme, ekstrimisme dan terorisme itu bisa saja terjadi tidak hanya di kalangan kaum muslimin tapi di kalangan agama-agama lain. Akan tetapi hari ini, mayoritas aksi bom bunuh diri dan tindakan-tindakan ekstrimisme yang mengatasnamakan agama hampir selalu berkaitan dengan umat Islam yang disebabkan karena berbagai faktor, termasuk faktor sikap ekstrem dan saling menyalahkan, mengkafirkan terhadap sesama saudara Muslim atau atau non muslim di sebuah negara.

Pada saat dunia muslim sedang dihadapkan dengan fitnah-fitnah besar semacam itu, maka sudah saatnya kita mengajukan Indonesia sebagai alternatif model Islam dunia yang membawa kedamaian; yang membawa rahmat bagi umat manusia.

Selain jumlah umat Islam Indonesia yang terbesar seluruh dunia mencapai 230-an juta jiwa, umat Islam Indonesia ini berhasil menunjukkan harmoni antara agama dan negara. Umat Islam di Indonesia berhasil menyatukan antara ajaran agama dengan nasionalisme. Bahwa nasionalisme merupakan bagian dari ajaran agama dan orang yang beragama Islam pastilah nasionalis. Inilah yang menjadi inti dari ajaran yang dikembangkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama.

Negara Muslim Indonesia didirikan melalui udara dan perjuangan para ulama, santri dan para syuhada. Indonesia didirikan sebagai negara yang berdasarkan atas ajaran-ajaran agama-agama, terutama ajaran agama Islam yang secara bertahap ditaqnin atau di legislasi menjadi ketentuan hukum negara.

Jadi poin yang perlu disampaikan adalah bahwa Islam di Indonesia sudah berhasil mendamaikan atau memadukan antara ajaran agama di satu sisi dengan nasionalisme. Ini penting diajukan sebagai alternatif pada saat beberapa negara muslim dengan mengalami fitnah besar yang sudah disebutkan tadi. Bahwa persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa ini sangat perlu diutamakan untuk menghindari perpecahan yang lebih besar dan itu sudah dicontohkan dan dipraktekkan oleh kaum muslimin di Indonesia. Sudah saatnya Islam di Indonesia tampil menjadi alternatif Islam dunia; sudah saatnya damai Indonesia yang menjadi rujukan damai seluruh dunia.
Wallahua’lam bishowab.

Islam, #Indonesia dan #Pesantren

  • **Founder STAI Al Badar Cipulus Purwakarta,dan Ketua PP GP Ansor.

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *