Kitab Qasidah Burdah dalam Aksara Pegon Sunda Karya KH Rd Atung Aonillah

Pustaka

Qasidah Burdah merupakan kumpulan bait-bait syair indah karya Imam Al-Bushiri yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia karena selalu dibaca di pesantren, masjid, mushala dan majelis ta`lim. Biasanya syair yang mengagungkan Rasulullah ini dibaca setiap malam Jumat atau pada momentum tertentu seperti peringatan Maulid Nabi. Untuk menambah kekhusukan, para ahli menerjemahkan Qasidah Burdah ini ke berbagai bahasa, termasuk Sunda.

Di daerah Pasundan, ada seorang ulama yang menerjemahkan Qasidah Burdah dalam bait-bait Sunda dan ditulis dalam huruf pegon, ulama tersebut adalah KH Rd Atung Aonillah, pendiri Pesantren Al-`Aonillah, Jalan Berdikari, Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ajengan Atung mengenalkan identitasnya di awal syair yang ia gubah dengan memberi nama putera Ahmad Mubarok, sebagaimana tertulis dalam bait syair kedua dan ketiga:

Ibnu Ahmad Mubarok bin Abidirrohmani # Niru-niru ka Bujangga ahli syair utami

(Putera Ahmad Mubarok bin Abdurrahman # meniru pujangga ahli syair yang utama)

Kajurung ku sahiji sobat anu ngumaha # sanajan sanes ahli nganggit syair nadzami

(Terdorong oleh salah satu sahabat yang meminta # walaupun bukan ahli penulis syair nadzami)

Di kitab nadzam karya lainnya yang berjudul Tarbiyatun Nafs, Ajengan Atung menulis dalam pendahuluan bahwa ia didorong oleh salah satu sahabat dan juga keponakannya sendiri agar menulis kitab syair Sunda agar dakwahnya bisa masuk ke dalam sanubari masyarakat awam, sebagaimana tertulis:

Kaula nulis dina ieu buku maksudna hatur punten ka sadayana rehna kaula kadesek ku salah sahiji sobat kalayan didorong ku alo ponakan yen kaula kudu ngadangding tegesna nyieun nadzaman anu ngarupakeun papatah pituah pikeun ka satiap jalmi anu masih keneh awam.

(Saya menulis kitab ini maksudnya mohon maaf kepada semuanya bahwa saya terdesak oleh salah satu sahabat dengan didorong oleh keponakan supaya saya men-danding yaitu membuat nadzaman yang merupakan pepatah nasihat untuk setiap orang yang masih awam)

Arti dan terjemahan Qasidah Burdah karya Ajengan Atung ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan terjemahan Bahasa Indonesia yang banyak beredar di masyarakat, namun uniknya ia mampu memilih kosa kata bahasa Sunda agar punya makna yang tepat dan sesuai serta bisa mengikuti irama/bahr sehingga saat dinadzamkan bisa mengikuti ritme dan selanjutnya diharapkan masyarakat Sunda bisa memahami kandungannya, sebagaimana ia tulis dalam bait syair ke 5 dan ke 6:

Muga jadi manfaat ka sadaya kerabat # sanak family dulur kanu nulis utami

(Semoga menjadi manfaat ke semua kerabat # sanak family, saudara kepada penulis terutama)

Asal Bahasa Arab disundakeun supaya # pada gampang maraca kaum-kaum awami

(Asalnya bahasa arab disundakan supaya # pada mudah membaca kaum-kaum awam)

Dalam menyusun bait-bait syair karyanya, Ajengan Atung mampu menerjemahkan dan mengikuti irama/bahr dalam Qasidah Burdah dengan menggunakan mimiyat, dari awal sampai akhir bait-bait syair terjemahannya bisa diakhiri dengan suku kata “mi”.  Syair terjemahannya itu selalu mengikuti setiap syair Burdah, misalnya pada bait syair ke 18 sampai 20 dalam Qasidah Burdah:

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى # حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Napsu saperti orok nu nyusu tonggoy resep # mun dijujur molesat hade pisan tong lami

(Nafsu seperti bayi yang sangat menyukai susu # Jika disapih sangat bagus tidak lama akan meninggalkannya)

  فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ # إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Hawa nafsu diseunggeur tong diturut ku sabab # Nafsu matak mateni jadi cacad ka jalmi

(Hawa Nafsu dibekuk jangan dituruti sebab # Nafsu bisa membunuh jadi cacat pada manusia)

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ # وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ

Riksa nafsu taliti sina tonggoyna amal # Nafsu mun teu diriksa kajongjonan salami

(Jagalah nafsu dengan teliti supaya tenang beramal # Nafsu jika tidak dijaga akan selamanya leluasa)

Dalam kitab yang memiliki ketebalan 17 halaman ini, Ajengan Atung tidak memberikan judul, bahkan jilidnya pun terkesan polos karena hanya bertuliskan teu kenging dipoto copy tanpa ijin (jangan difoto copy tanpa izin), mungkin ia tidak berani memberikan judul karena memang judulnya adalah Qasidah Burdah. Kitab terjemah Qasidah Burdah ini belum diperbanyak dan tidak dijual bebas di pasaran karena masih terbatas di kalangan keluarga, santri dan jamaah.

Penulis: Aiz Luthfi

Leave your vote

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *